You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Cendana
Cendana

Kec. Cendana, Kab. Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan

SEJARAH DESA CENDANA

SUCI LESTARI 09 Desember 2025 Dibaca 138 Kali
SEJARAH DESA CENDANA

Desa Cendana bukan sekadar sebuah wilayah administratif tingkat terendah; desa ini adalah epos (asal muasal), jantung historis, dan cikal bakal nama yang kemudian diadopsi menjadi nama Kecamatan Cendana.

Secara lisan dan turun-temurun, memori kolektif masyarakat setempat mencatat bahwa nama "Cendana" diambil dari keberadaan sebuah pohon besar, yaitu Pohon Cendana Wangi (Santalum album), yang dahulu tumbuh subur di wilayah ini. Pohon tersebut menjadi penanda spasial (papan nama alam) bagi para pedagang dan pengembara yang melintasi jalur selatan Enrekang menuju wilayah pesisir.

Dalam struktur adat Massenrempulu, wilayah Desa Cendana purba merupakan bagian dari persekutuan adat kelompok etnis asli yang berpusat di sekitar bantaran Sungai Saddang dan kaki perbukitan. Keterikatan emosional masyarakat terhadap pohon pelindung ini sangat kuat, sehingga ketika pemukiman mulai teratur, Masyarakat setempat sepakat menamakan wilayah mereka sebagai Kampung Cendana.

Pembentukan Administratif, Dari Kampung Tradisional Menjadi Desa Definitif

Sebelum menyandang status desa modern, Cendana dipimpin oleh pemuka adat atau kepala kampung yang disebut Arung atau Maddika dalam sistem konfederasi lokal. Pada masa kemerdekaan awal, wilayah ini melebur ke dalam Distrik/Kecamatan Enrekang sebagai salah satu kampung utama di bagian selatan.

Era Undang-Undang No. 5 Tahun 1979:

Struktur administratif Desa Cendana secara modern dan definitif mulai mengental pasca-diberlakukannya penyeragaman sistem pemerintahan desa secara nasional oleh Orde Baru melalui UU No. 5 Tahun 1979. Melalui kebijakan ini, Kampung Cendana resmi bertransformasi menjadi Desa Cendana yang berada di bawah naungan Kecamatan Enrekang (Kecamatan Induk).

Era Pemekaran Kecamatan (2002):

Ketika Kecamatan Cendana dibentuk melalui Perda No. 5 Tahun 2002, Desa Cendana melepaskan diri dari Kecamatan Enrekang. Uniknya, meski memberikan namanya sebagai nama kecamatan baru, pusat pemerintahan kecamatan (ibu kota) justru diletakkan di Kelurahan Puserren (tetangga dekatnya), sementara Desa Cendana tetap berdiri mandiri sebagai salah satu desa agraris utama di kecamatan Cendana.

Silsilah Kepemimpinan (Kepala Desa)

Tata kelola pemerintahan Desa Cendana dicatat oleh kepemimpinan para tokoh lokal yang bertindak sebagai jembatan antara kebijakan negara dan hukum adat masyarakat.

Pada masa-masa awal pembentukan struktur desa formal di bawah Kabupaten Enrekang, posisi Kepala Desa diisi oleh tokoh-tokoh pamong adat setempat yang dihormati, seperti rumpun keluarga bangsawan lokal (Arung) yang mengonsolidasikan wilayah dusun-dusun di Cendana.

Memasuki era reformasi dan pemilihan kepala desa secara langsung (Pilkades), kepemimpinan desa mulai diisi oleh figur-figur visioner dari kalangan masyarakat sipil.

Berikut daftar Kepala Desa Cendana :

  1. Puang Bassing : Kepala Desa Pertama di Desa  Cendana
  2. Puang Najamuddin,  
  3. Tariana, (Periode 19... – 19......)
  4. Ir Asri , (Periode 19... – 19......)
  5. Syukur, (Periode 20... – 20......)
  6. M. Kahar K.  (Periode 20... – 20......)

Dimasa Jabatan Kepala Desa Puang Najamuddin desa cendana di mekarkan menjadi Desa Cendana dan Desa Taulan

Pembagian Wilayah (Dusun)

Untuk mengefektifkan pelayanan di wilayahnya yang berbukit-bukit namun subur, Desa Cendana secara administratif dibagi menjadi 4 wilayah dusun. Dusun-dusun ini berkembang dari pemukiman klan keluarga (kampung lama), di antaranya yang cukup dikenal adalah kawasan yang bersinggungan langsung dengan jalur Trans-Sulawesi dan wilayah pertanian pedalaman. Pembagian dusun ini membantu distribusi pengelolaan lahan pertanian dan irigasi yang bersumber dari wilayah pegunungan dan Sungai Saddang. Dusun-dusun diwilayah desa cendana antara lain Dusun Baba Utara, Dusun Baba Selatan, Dusun Cendana Atas dan Dusun Cendana Dalam.

Jejak Perjuangan Fisik perintis kemerdekaan: Pertempuran Cendana

Dalam lembaran sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia (1945–1949), Desa Cendana memegang peran heroik yang sangat penting di Kabupaten Enrekang. Wilayah ini merupakan salah satu basis pertahanan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia yang menentang kembalinya tentara NICA/Belanda.

Sejarah mencatat peristiwa Pertempuran Cendana. Pada sekitar bulan September 1946, pasukan tentara Belanda di bawah pimpinan Kapten Bloumen yang bermarkas di Kota Enrekang merasa terganggu oleh pergerakan para pejuang di Cendana. Belanda kemudian melancarkan serangan militer besar-besaran ke markas laskar di Cendana. Laskar lokal pimpinan tokoh pejuang seperti Wa'lija dan Andi Singkang dengan gagah berani meladeni pertempuran bersenjata demi mempertahankan wilayah Cendana agar tidak jatuh ke tangan penjajah. Peristiwa ini menjadikan Desa Cendana sebagai simbol patriotisme di tanah Massenrempulu.

Profil Sosial-Ekonomi Kontemporer: Sentra Dangke dan Agribisnis

Seiring berjalannya waktu, wajah ekonomi Desa Cendana bertransformasi tanpa kehilangan akar budayanya:

Selain sektor pertanian seperti jagung dan bawang merah, Desa Cendana terkenal secara luas sebagai salah satu pusat pembuatan Dangke—kuliner keju tradisional khas Enrekang yang terbuat dari susu sapi atau kerbau yang dibekukan dengan getah pepaya. Industri rumahan pembuatan dangke di Desa Cendana menjadi penggerak utama ekonomi kaum perempuan dan peternak lokal.

Oleh : Team SID Desa Cendana

Referensi/Sumber :

  1. Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Enrekang Nomor 5 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kecamatan Cendana, Kecamatan Malua, Kecamatan Baroko, Kecamatan Curio dan Kecamatan Buntu Batu. (Dokumen hukum utama yang menandai lahirnya Kecamatan Cendana secara hukum).
  2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. (Dasar hukum penyeragaman struktur tata pemerintahan Kampung Cendana menjadi Desa Cendana yang definitif pada era Orde Baru).
  3. Arsip Profil Desa Cendana dan Profil Kecamatan Cendana, Kantor Tata Pemerintahan Kabupaten Enrekang (Berisi data monografi desa, silsilah kepemimpinan, luas wilayah, dan pembagian dusun dari tahun ke tahun).
  4. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Enrekang, Kecamatan Cendana Dalam Angka (Publikasi tahunan, mencatat perkembangan demografi, sosial, dan ekonomi desa-desa di Kecamatan Cendana)
  5. Amran, A., dkk. (Universitas Hasanuddin). Studi Komparasi Dialek Bahasa di Wilayah Perbatasan Massenrempulu dan Bugis. (Penelitian linguistik yang memotret pergeseran bahasa masyarakat di wilayah selatan Enrekang seperti Desa Cendana)
  6. Wawancara dengan Pemuka Adat / Tokoh Masyarakat Desa Cendana: Mengenai toponimi (asal-usul nama dari Pohon Cendana Wangi) dan batas-batas tanah ulayat/kampung lama sebelum regulasi modern diterapkan.
  7. Wawancara dengan Pamong Pemerintahan: Kesaksian dari para mantan kepala desa, sekretaris desa, atau camat-camat awal yang menyaksikan langsung transisi pelayanan administrasi dari Kecamatan Induk (Enrekang) menuju Kecamatan Pemekaran (Cendana) pada tahun 2002
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan